PENDAHULUAN
Sering kita mendengar kata “
organisasi” dalam kehidupan dilingkungan masyarakat maupun dunia pekerjaan atau
kampus, namun terkadang kita sering dibingungkan oleh definisi dari organisasi
dengan segala aspek dan istilah yang menyertainya. Banyak referensi dan
pendapat dari para pakar manajemen dan organisasi di dunia , namun secara umum
dapat didefinisikan pengertian organisasi sebagai suatu kesatuan sosial yang
dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat
diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk
mencapai suatu tujuan bersama ( sekelompok tujuan ).
Istilah Struktur Organisasi
menunjukkan bagaimana tugas akan dibagi, siapa melapor kepada siapa, dan
mekanisme koordinasi yang formal serta pola interaksi yang akan diikuti.
Struktur organisasi memiliki tiga komponen berupa :
•Kompleksitas
: mempertimbangkan tingkat diferensiasi yang ada , termasuk
tingkat spesialisasi atau tingkat pembagian kerja,
jumlah tingkatan dalam
hirarki, serta tingkat penyebaran secara geografis
•Formalisasi
: menunjukkan tingkat sejauh mana organisai menyandarkan diri
pada peraturan dan prosedur untuk mengatur perilaku
anggotanya.
•Sentralisasi
: mempertimbangkan dimana letak dari pusat pengambilan
keputusan.
Sedangkan pengertian “Disain
Organisasi “ lebih menekankan sisi manajemennya dengan mempertimbangkan
konstruksi dan mengubah struktur untuk mencapai tujuan organisasi.
Perspektif Sistem menggambarkan bagaimana cara kerja
sebuah organisasi,
sedangkan karakteristik dari sistem terbuka meliputi :
- Kepekaan terhadap lingkungan; ketergantungan antara
sistem dengan
lingkungannya
- Umpan balik
- Cyclical character
- Negatif enthropy; menunjukkan kemampuan memperbaiki
diri untuk
menghindari kehancura
Perspektif Daur Hidup menunjukkan pola perubahan
organisasi yang dapat diramalkan dengan mengikuti tahapan perkembangan yang
konsisten dan bukan kejadian yang random.
PERKEMBANGAN TEORI ORGANISASI
Pendekatan awal terhadap teori organisasi pada
permulaan abad 19 menganggap organisasi sebagai alat mekanis untuk mencapai
tujuan , dengan perhatian difokuskan pada pencapaian efisiensi di dalam
fungsi-fungsi intern organisasi ( Teoritikus Tipe 1 ).
Pada teoritikus Tipe 2 yang
melaksanakan dibawah asumsi system tertutup namun menekankan hubungan informasl
dan motivasi –motivasi non-ekonomis yang beroperasi didalam organisasi.
Organisasi tidak selalu berjalan secara mulus dan bukan merupakan mesin yang sempurna.
Manajemen dapat merancang hubungan dan aturan formal , namun disciptakan juga
persahabat informal untuk memenuhi kebutuhan social anggotanya.
Kerasionalan kembali menjadi tema sentral pada
teoritikus Tipe 3, diperkirakan sejak 1960 sampai awal 1970-an para teoritikus
melihat organisasi menjadi alat untuk mencapai tujuan. Mereka memfokuskan pada
sasaran, teknologi, dan ketidak pastian lingkungan sebagai variable-variabel
kontingensi utama yang menentukan struktur yang tepat dan seharusnya berlaku dalam
organisasi., dengan kata lain struktur yang sesuai dengan variable-variabel
kontingensi tersebut akan membantu pencapaian tujuan organisasi, sebaliknya
penerapan struktur yang salah akan mengancam kelangsungan hidup organisasi.
Akhirnya pendekatan mutakhir untuk memahami organisasi
sangat dipengaruhi oleh para teoritikus Tipe 4. Perspekstif social digunakan
kembali, namun dalam kerangka kerja system terbuka. Hasilnya adalah pandangan
bahwa struktur bukanlah merupakan usaha yang rasional dari para manajer untuk
menciptakan struktur paling efektif, namun merupakan hasil dari suatu
pertarungan politis diantar koalisi-koalisi didalam organisasi untuk
memperebutkan kendali / kekuasaan
PERINSIP DAN DESAIN ORGANISASI
Agar suatu organisasi dapat berjalan dengan baik perlu
diperhatikan
beberapa prisip organisasi , meliputi antara lain :
a. Perumusan tujuan secara jelas, sebab tujuan bagi
organisasi berfungsi untuk :
• Pedoman kearah mana organisasi akan dibawa
• Landasan bagi organisasi tersebu.
•
Menentukan macam aktivitas yang akan dilakukan
•
Menentukan program, prosedur dan kiss me ( koordinasi,
integrasi,
simplifikasi, sinkronisasi dan mekanisme )
b. Pembagian tugas dan pekerjaan, yang dapat dibedakan
menjadi :
•
Pembagian atas dasa r wilayah atau teritorial
•
Pembagian atas dasar jenis produk yang dihasilkan
•
Pembagian atas dasar sasaran / obyek kegiatan
•
Pembagian atas dasar fungsi
•
Pembagian atas dasar waktu
c. Delegasi kekuasaan, agar dapat efektif maka perlu
diperhatikan hal sebagai berikut :
- Harus diikuti adanya pertanggung jawaban
- Diberikan kepada orang yang tepat
- Dibarengi pemberian motivasi
- Harus diikuti adanya pertanggung jawaban
- Diberikan kepada orang yang tepat
- Dibarengi pemberian motivasi
d. Rentangan kekuasaan, menurut
seorang pakar dikatakaan bahwa batas jumlah maksimum yang dapat dikendalikan
secara efektif seorang pimpinan adalah berkisar antara lima sampai delapan
orang bawahan. Faktor lain yang berpengaruh adalah : kejelasan tugas, wewnang
dan tanggung jawab tiap orang; kompleksitas jalinan hubungan kerja; kemampuan
dari tiap orang; corak pekerjaan; stabilitas organisai dan tenaga kerja; serta
jarak dan waktu.
e. Tingkatan pengawasan, diusahakan agar tercipta “
flat –top organization”
yaitu yang berbentuk pipih dan tidak menjulang tinggi.
f. Kesatuan perintah dan tanggung jawab, dengan
prisnip “ an employee should
recieve orders from one superior only”
g. Koordinasi, dengan menciptakan efek siinergis dari
segala komponen utnuk
mencapai tujuan organisasi
Menurut pola hubungan kerja, serta alur wewenang dan
tanggung jawab,
maka disain bentuk organisasi dapat dibedakan menjadi
:
2. Organisasi Garis
Ciri – cirinya adalah organisasi masih kecil, jumlah
anggota sedikit, pimpinan
dan bawahan semua saling kenal dan spesialisai kerja
sedikit.
Kelemahannya yaitu seluruh organisasi bergantung
kepada satu orang, kecenderungan bersikap otoriter dan kesempatan berkembang
anggota terbatas Kelebihannya adalah kesatuan perintah terjamin baik, proses
pembuatan keputusan cepat dan rasa solidaritas antar anggota tingg
Cirinya terdapat satu atau beberapa orang staff yaitu
orang yang ahli dalam
bidang tertentu yang bertugas memberi nasehat kepa
pimpinan.
Kelemahannya adalah anggota tidak saling mengenal
sehingga solidaritasnya rendah, karena rumit / kompleksnya organisasi maka
kesulitan dalam koordinasi.
Kelebihannya yaitu dapat digunakan oleh stiap
organisasi besar, pengambilan keputusan lebih berbobot karena adanya staff, dan
konsep “ the rigth man on the rigth place” dapat lebih terjamin
Cirinya terdapat satu atau beberapa orang staff yaitu
orang yang ahli dalam
bidang tertentu yang bertugas memberi nasehat kepa
pimpinan.
Kelemahannya adalah anggota tidak saling mengenal
sehingga solidaritasnya rendah, karena rumit / kompleksnya organisasi maka
kesulitan dalam koordinasi.
Kelebihannya yaitu dapat digunakan oleh stiap
organisasi besar, pengambilan keputusan lebih berbobot karena adanya staff, dan
konsep “ the rigth man on the rigth place” dapat lebih terjamin.
5. Organisasi Fungsional dan Staff
Merupakan kombinasi dari bentuk organisai fungsional dan bentuk organisai
garis dan staff. Kelebihan dan kelemahannya seperti dalam masing-masing
bentuk organisasi yang dikombinasikan tersebut.
Merupakan kombinasi dari bentuk organisai fungsional dan bentuk organisai
garis dan staff. Kelebihan dan kelemahannya seperti dalam masing-masing
bentuk organisasi yang dikombinasikan tersebut.
II. KEEFEKTIFAN ORGANISASI
Pada tahun 1950-an efektivitas organisasi diartikan
sebagai sejauh mana sebuah organisasi mewujudkan tujuan-tujuannya, namun hal
ini masih mempunyai makna ganda yang kadang sulit dimengerti oleh para manajer.
Sehingga perlu didefinisikan tentang kefektifan tersebut menjadi sejauh mana
organisasi tersebut mampu mempertahankan kelangsungan hidup-nya Namun dalam
perkembangannya ternyata timbul kompleksitas mengingat semakin bervariasinya
tujuan dan jenis organisasi yang memiliki kespesfikan masing- masing . Oleh
karena itu dibutuhkan beberapa pendekatan untuk menila
i
kefektifan organisasi, yaitu antara lain meliputi :
1. Pendekatan Pencapaian Tujuan (goal attainment
approach) yang menyatakan bahwa kefektifan organisasi harus dinilai sehubungan
dengan pencapaian tujuan (ends ) ketimbang caranya (means ) yang perlu
diperhitungkan adalah bottom line-nya. Ada beberapa asumsi yang dibutuhkan,
yaitu : Pertama,
organisai harus mempunyai tujuan akhir; Kedua, tujuan
tersebut harus diidentifkasi dan ditetapkan dengan baik agar dapat dimengerti;
Ketiga, tujuan tersebut harus dedikit agar mudah dikelola; Keempat, harus ada
konsesus atau kesepakatan umum mengenai tujuan tersebut; Kelima, kemajuan
kearah tujuan tersebut harus dapat diukur. Masalah potensial yang ada antara
lain berasal dari asumsi awal tersebut diatas; adanya tujuan yang majeemuk
maupun perbedaan antara jangka pendek dengan jangka panjang menyebabkan ketidak
cocokan dan saling bersaing, atau standar ukuran yang ditetapkan berorientasi
pada performa masa lalu bukan dalam ukuran yang ideal / obyektif.
2. Pendekatan Sistem menyatakan sebuah organisasi juga
harus dinilai
berdasarkan kemampunnya memperoleh masukan,
memprosesnya, menyalurkankeluarannya, dan memepertahankan stabilitas dan
keseimbangan. Model-model system menekankan criteria yang akan meningkatkan
kelangsungan hidup jangka panjang dari organisasi – seperti kemampuan
memperoleh sumber daya, mempertahankan dirinya secara internal sebagai
organisme social, dan berintegrasi secara berhasil dengan lingkungan. Jadi
pendekatan system berfokus bukan pada tujuan akhir tertentu, tetapi pada cara
yang dibutuhkan untuk pencapaian tujuan tersebut. Asumsi yang mendukung
pendektan system antara lain, organisasi terdiri atas sub bagian yang saling
berhubungan; harus ada kesadaran dan interaksi yang baik dengan konstituen
lingkungannya; kelangsungan hidup membutuhkan penggantian yang terus menerus
pada sumber daya yang digunakan. Sedangkan beberapa masalah potensialnya antara
lain berkaitan dengan kesulitan dalam pengukuran dari variable proses dan
apakah cara / metode yang diterapkan memang sudah sesuai atau optimal, serta
kadang terjebak dalam sikap yang lebih mementingkan proses daripada hasil atau
tercapainya tujuan akhir.
3. Pendekatan Konstituen –Strategis,
yaitu apabila organisasi dapat memenuhi kebutuhan / tuntutan dari konstituen
kritisnya yang terdapat dalam lingkungan organisasi dan menjadi pendukung
kelanjutan eksistensi organisasi tersebut. Asumsi yang berlaku antar lain bahwa
organisasi dianggap sebagai arena politik tempat kelompok yang berkepentingan
saling bersaing menguasai sumber daya agar dapat memenuhi tuntutan konstituen
kritisnya. Pihak manajemen dalam memilih tujuan menjadi tidak bebas nilai ,
tergantung jenis konstituen yang akan dipenuhi tuntutannya. Sedangkan
permasalahan potensial yang dapat timbul antara lain kesulitan dalam
identifkasi konstituen strategis karena perubahan lingkungan yang cepat
termasuk mendapatkan informasi yang valid tentang harapan dari konstituen
tersebut.
4. Pendekatan Nilai-nilai Bersaing,
melaui identfikasi seluruh empat variabel utama ( laba atas investasi; pangsa
pasar; pembaharuan produk dan keamanan kerja ) dan menentukan bagaimana
variabel – variabel tersebut saling berhubungan. Hal ini tergantung dari siapa
sebenarnya anda dan siapa yang anda wakili. Asumsi yang barlaku bahwa tidak ada
tujuan tunggal yang dapat disetujui semua pihak atau tidak ada konsesus yang
memutuskan tujuan mana yang harus didahulukan , karena tergantung subyektivitas
para pelaku dengan nilai pribadi , prefernsi dan minat mereka masing-masing.
Selain pengakuan adanya pilihan tujuan yang berbeda, maka diasumsikan seluruh
pilihan tersebut dapat dikonsolidasikan melalui kesamaan dari elemen umum yang
mendasari kriteria penilaian semua pilihan manajemen dalam memilih tujuan
menjadi tidak bebas nilai , tergantung jenis konstituen yang akan dipenuhi
tuntutannya. Sedangkan permasalahan potensial yang dapat timbul antara lain
kesulitan dalam identifkasi konstituen strategis karena perubahan lingkungan
yang cepat termasuk mendapatkan informasi yang valid tentang harapan dari
konstituen tersebut.
4. Pendekatan Nilai-nilai Bersaing,
melaui identfikasi seluruh empat variabel utama ( laba atas investasi; pangsa
pasar; pembaharuan produk dan keamanan kerja ) dan menentukan bagaimana
variabel – variabel tersebut saling berhubungan. Hal ini tergantung dari siapa
sebenarnya anda dan siapa yang anda wakili. Asumsi yang barlaku bahwa tidak ada
tujuan tunggal yang dapat disetujui semua pihak atau tidak ada konsesus yang
memutuskan tujuan mana yang harus didahulukan , karena tergantung subyektivitas
para pelaku dengan nilai pribadi , prefernsi dan minat mereka masing-masing.
Selain pengakuan adanya pilihan tujuan yang berbeda, maka diasumsikan seluruh
pilihan tersebut dapat dikonsolidasikan melalui kesamaan dari elemen umum yang
mendasari kriteria penilaian semua pilihan.
III. MODEL PERTUMBUHAN ORGANISASI
Model pertumbuhan yang paling dikenal dan dikembangkan
pada tahun
1970-an oleh Larry Greiner yang menyatakan bahwa
karakteristik tahap
pertumbuhan yang panjang dan tenang (disebut evolusi )
akan diikuti oleh periode-periode kekacauan internal (disebut revolusi). Setiap
tahap evolusi menciptakan krisis tersendiri, dan pemecahan suatu krisis akan
melahirkan suatu tahap evolusi baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar